Selasa, 14 Februari 2012


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR                                                                                          i
DAFTAR ISI                                                                                                        ii

1.1.  Pendahuluan                                                                                                 1
1.2.  Permasalahan                                                                                              2
1.3.  Pembahasan
         1.3.1. Taksonomi Tumbuhan                                                                    3
         1.3.2. Ontologi Taksonomi Tumbuhan                                                    6
         1.3.3. Epistemologi Taksonomi Tumbuhan                                            11
         1.3.4.  Aksiologi Taksonomi Tumbuhan                                                 16       
1.4.  Kesimpulan                                                                                                 19
DAFTAR PUSTAKA                                                                                         20




 KAJIAN FILSAFAT TAKSONOMI TUMBUHAN

Tri Harsono
118109002

 1.1. Pendahuluan
Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito".
Tulisan berikut ini mencoba memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang  pertama disebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang dapat menguak pengetahuan?. Kedua di sebut dengan landasan epistemologis; berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? Apakah kriterianya ? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?. Sedang yang ketiga, disebut dengan landasan aksiologiLandasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?
Jadi untuk dapat membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya, kita membutuhkan jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini. Dengan adanya jawaban ini  maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfrontasikan dengan agama, bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu ?
Taksonomi Tumbuhan sebagai satu bagian dari ilmu pengetahuan yang mencoba membahas tentang pencirian, penamaan, pengelompokan dan penelusuran kekerabatan antara satu takson dengan takson lain pada dunia tumbuhan, juga dapat dianalisis dengan menggunakan tiga hal di atas yaitu : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Bagaimana sikap dan pandangan kita terhadap Taksonomi Tumbuhan ditinjau dari 3 konteks tersebut akan diulas dalam tulisan berikut ini.

1.2.  Permasalahan
Berbagai kajian tentang filsafat telah dibahas oleh para ahli-ahli filsafat. Berbagai dasar dan pijakan dijadikan untuk melakukan analisisi  terhadap filsafat dan perkembangan filsafat dari waktu ke waktu.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba melakukan ulasan atau kajian tentang filsafat ditinjau dari segi ontologi, epistemologi dan aksiologi. Kajian dilakukan terhadap Taksonomi Tumbuhan.
Metode yang dilakukan bervariasi dari pembahasan literatur, pengalaman dan ulasan pribadi serta berbagai pendapat orang lain yang berkaitan dengan  ontologi, epistemologi dan aksiologi dari Taksonomi Tumbuhan.

1.3.  Pembahasan
1.3.1. Taksonomi Tumbuhan
Dahulu orang menganggap istilah taksonomi dan sistematika sebagai dua istilah yang mempunyai satu arti dan digunakan secara berganti-ganti dengan pengertian yang sama, tetapi dalam perjalanan sejarahnya kata taksonomi dan sistematika kemudian diberi makna yang berbeda. Taksonomi diartikan sebagai teori daan praktek klasifikasi mencakup pemberian nama dan penyusunan yang sistematis dan tumbuhan dan hewan kedalam kelompok-kelompok. Sementara sistematika oleh Simpson (1961) diberi batasan sebagai studi tentang macam-macam organisme, keanekaragamannya serta hubungan serta hubungan kekerabatan diantara mereka.
Sistematika berasal dari bahasa Yunani yang diartikan yaitu systema. Kata ini diterapkan di dalam klasifikasi oleh Linneus pada tahun 1735 dalam bukunya yang berjudul ”Systema Nature”. Sistematika mempunyai tugas untuk menentukan keanehan-keanehan apa yang dimiliki oleh setiap takson dengan cara membanding-bandingkan. Selanjutnya menentukan ciri-ciri apa yang secara umum dimiliki oleh takson-takson tertentu saja.
Dari uraian di atas kemudian timbul pertanyaan bagaimana cara mengelompokkan organiisme itu. Langkah pertama ialah dengan mengadakan observasi terhadap tumbuhan maupun hewan yang dipelajari untuk melihat persamaan dan perbedaan antara satu dengan yang lain serta untuk menentukan jauh dekatnya hubungan kekerrabatan diantara mereka. Ciri-ciri yang mungkin dapat digunakan untuk membedakan jenis-jenis itu ialah: struktur, bentuk, ukuran, warna, sejarah hidup, aktiivitas fisiologi, cara perkembangbiakan, susunan kimia tubuh.
Taksonomi sebagai salah satu cabang biologi ternyata diperlukan oleh ilmu-ilmu lain. Beberapa cabang biologi menunjukkan ketergantungan pada taksonomi. Dalam ilmu ekologi, taksonomi merupakan dasar yang sangat esesial, sebab hampir tidak ada survai ekologi yang tidak memerlukan identifikasi spesies. Berbicara tentang spesies berarti kita berbicara tentang taksonomi atau sistematika. Dalam kaitannya dengan ilmu lain, taksonomi sangat penting di dalam geologi dan stratigrafi. Kedua cabang ilmu terakhir itu sangat memerlukan ketepatan identifikasi fosil yang dipandang sebagai spesies kunci. Di dalam taksonomi dikenal adanya beberapa genus yang mempunyai 2 atau lebih spesies yang menunjukkan ciri-ciri yang sangat mirip. Spesies-spesies itu mungkin lebih mudah dibedakan satu sama lain dari sifat fisiologinya dari pada ciri morfologi luar. Dalam hal ini terlihat adanya hubungan yang sangat erat antara taksonomi dan fisiologi.
Dalam bidang botani, peranan taksonomi dapat digambarkan sebagai berikut: Berdasarkan atas pengkajian hubungan kekerabatan antar tumbuhan, dapat ditunjukkan adanya jenis-jenis tumbuhan yang berguna sebagai obat-obatan, bahan industri perkayuan, dan lain-lain. Selain itu sistematik juga mempunyai peranan di dalam usaha memperoleh bibit unggul. Dengan bekal pengetahuan alat sistematika kita dapat mengenal berbagai jenis tumbuhan yang berguna untuk mencandra lingkungan suatu daerah.
Seiring dengan perkembangan waktu, maka Biologi berkembang manjadi disiplin ilmu yang memiliki berbagai cabang yang mencakup Botani, Zoologi dan Mikrobiologi. Satu diantaranya adalah Taksonomi Tumbuhan. Taksonomi Tumbuhan adalah satu disiplin ilmu cabang Botani yang khusus mempelajari tentang  pencirian, penamaan, penggolongan dan penelusuran kekerabatan. Ciri dan nama merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menyatakan tentang nama sebuah benda, atau nama satu buah-buahan, maka secara tidak langsung orang tersebut telah melakukan semacam kesimpulan untuk sebuah ciri-ciri dengan satu nama. Konsep ini menjadi lebih jelas ketika seseorrang ditanya tentang sebuah nama buah atau tanaman atau tumbuhyan yang sama sekali belum dikenalnya. Maka secara langsung orang yang ditanya kembali akan bertanya bagaimana ciri-ciri dari nama yang ditanya tersebut.
Nama merupakan satu bagian penting dalam kehidupan. Demikan juga halnya dengan nama dalam komunikasi ilmiah yang lebih dikenal dengan nama ilmiah (scientific names). Kalau komunikasi ilmiah menggunakan nama lokal sering kali menyebabkan permasalahan dalam penafsiran. Misalnya saja terjadi komunikasi dan membicarakan masalah pembuatan sayur daun ubi tumbuk (Manihot utilissima) maka digunakan sejenis pewangi sayuran yang di Jawa namannya combrang atau kecombrang, namun dengan orang Sunda namanya Honje. Ketika kita berada di Medan namanya adalah kincong atau kencong atau kincung yang masih memiliki variasi lagi seperti siala, cekala, rias, dll. Masih banyak lagi permasalahan dalam hal nama lokal dan nama ilmiah yang lebih dikenal dengan nama homonim atau sinonim. Misalnya Zanthoxylum acanthopodium yang di Tapanuli dikenal sebagai Andaliman, maka di Tapanuli Selatan dikenal sebagai Sinyarnyar dan di Karo dikenal sebagai Tuba namun di Gayo (Takengon) dikenal sebagai Empan. Billa orang suku Karo membutuhkan Tuba dan mencarinya dengan orang suku Melayu, maka akan diberikan sejenis tumbuhan yang akarnya mengandung racun. (Derris eliptica). Jadi konsep tuba yang berbeda akan memberikan kesan dan maksud yang berbeda dalam pelaksanaan hidup sehari-hari. Sedangkan jika seandainya nama tersebut diberikan dalam bahasa ilmiah (Bahasa Latin), maka dimanapun di dunia ini nama tersebut telah menjadi semacam kesepakatan internasional. Meskipun pada tahap awalnya hanya dikenal oleh kelompok ilmuwan dari golongan ilmu-ilmu Botani.
Dari nama dan ciri kemudian manusia berusaha melakukan kegiatan penggolong-golongan. Dalam berbagai bentuk kehidupan, manusia melakukan penggolong-golongan yang kesemuanya bertujuan untuk memudahkan pengenalan dan penyederhanaan pembahasan tentang objek yang dipelajari yang jumlahnya sedemikian banyak. Ketika orang berbicara tentang jenis-jenis hewan, maka berbagai jenis bahkan ribuan jenis hewan hidup dipermukaan bumi. Masing-masing hewan memiliki sejumlah ciri dan kekhasan. Misalnya kelompok pisces yang hidup di air, Amphibia yang masih hidup di air, tetapi sudah mulai meninggalkan kehidupan air, Reptilia yang sudah meninggalkan air namun masih berada disekitar kehidupan air atau lokasi yang lembab serta Aves dengan sayapnya dan Mammalia dengan kelenjar susunya. Kelompok hewan yang demikian banyak dibagi menjadi dua kelompok saja yaitu Hewan bertulang belakang (Vertebrata) dan Hewan tidak bertulang belakang (Invertebrata). Kemudian vertebrata masih lagi dibagi menjadi Pisces, Amphibia, Aves dan Mammalia. Demikian juga halnya dengan tumbuh-tumbuhan yang jumlahnya demikian besar dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu Tumbuhan Rendah (Acormophyta kormus artinya dapat dibedakan akar, batang dan daun, Phanerogamae) dan Tumbuhan Tinggi (Cryptogamae = Cryptos = Cryptomeri = tersembunyi). Tumbuhan juga dapat dikelompokkan berdasarkan ciri lain yaitu kesempurnaan organ tubuhnya dan secara filogenetik sehingga dikenal adanya : Schyzophyta (Schyzo = belah. Phyta = tumbuhan), Thallophyta, Bryophyta, Pteridopphyta (pteron = sayap) dan Spermatophyta. Bila kita menyatakan Schizophyta, maka akan terbayang dibenak kita sejumlah tumbuhan rendah dari kelompok Cyanophyceae (cyano = blue-green atau biru-hijau atau biram) dan Schyzomycetes. Namun bila kita menyatakan Spermatophyta, maka akan terbayang dibenak kita sekelompok tumbuhan yang memiliki bunga dan biji, bukannya tumbuhan yang memiliki sperma. Pengertian sperma mengacu kepada alat kelamin yang ada pada tumbuhan yang mencakup Pistillum dan Stamen. Dari pengelompokan tumbuhan kita berlanjut ke penelusuran kekerabatan. Ketika kita memberikan nama ilmiah kepada pohon Waru menjadi Hibiscus tiliaceus maka secara spontan kita telah menyatakan bahwa antara Waru (Hibiscus tillaceus) dengan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) merupakan saudara kerabat dekat dan satu marga yaitu sama-sam marga Hibiscus. Dengan melihat nama ilmiah kita secara spontan dapat menyatakan bahwa kekerabatan antara Hibiscus rosa-sinensis, Hibiscus rosa-arceri, Hibiscus schizopetalus, Hibiscus sabdariffa, Hibiscus tiliaceus merupakan satu kerabat dekat. Demikian juga antara Ipomoea tripida, Ipomoea batatas, Ipomoea reptansi, Ipomoea aquatica, Ipomoea pas-caprae, merupakan kerabat dekat.

1.3.2.       Ontologi Taksonomi Tumbuhan
Objek  telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Ontologis ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan ?.
Dalam taksonomi, maka konsep nama merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. Nama mewakili sejumlah nama dan sifat yang dimiliki suatu tumbuhan. Nama dapat berbentuk nama lokal (Local name, Vernacular name atau Common name). Nama ilmiah yang kita gunakan sekarang ini telah melalui berbagai seleksi pemberian nama yang cukup panjang dengan menguraikan beberapa ciri penting yang dimiliki tumbuhan. Nama yang demikian ini dikenal dengan Polinomial. Misalnya Sambucus caule arboreo ramoso floribus umbellatus nigro (Pohon sambukus yang batangnya kayu bercabang-cabang dengan bunga berbentuk payung dan warnanya hitam). Atau nama lain seperti : Solanum fomiferum fructo rotundo striato molly. Pemberian nama sistem Polinomial membuat banyak permasalahan antara lain unjtuk mengingat nama ilmiah yang demikian panjang serta menghafal nama Latin yang tergolong sulit untuk kalangan non-ilmuwan Botani. Sementara itu setiap ilmuwan juga memberikan nama ilmiah menurut versi, sifat dan cirinya masing-masing. Dengan kendala-kendala tersebut maka akhirnya pada 01 Mei 1753 Carollus Linneus (Karl Von Linne) menerbitka buku Species Pllantarum yang memuat pemberian nama ilmiah dengan sistem nama ganda atau Binomial System yang mencakup : (1). Nama ilmiah harus dalam nama Latin atau  dilatinkan. (2). Nama ilmiah terdiri dari dua kata. Kata pertama menerangkan genus (marga) sedangkan kata kedua menerangkan jenis (Epitheton specificus). (3). Huruf pertama kata pertama ditulis dengan huruf besar, sedangkan huruf pertama kata kedua ditulis dengan huruf kecil. (4). Bila dicetak miring maka yang dimirinkan hanya nama ilmiah. Nama Author tidak dicetak miring. Demikian juga bila digaris bawahi, maka yang digaris bawahi adalah nama ilmiah. Nama author tidak digaris bawahi. (5). Penggunaan tanda titik harus sangat diperhatikan. Sebab titik adalah nama ilmiah punya arti yyang sangat diperhitungkan Misal Pinang Mawar (Actinorhytis calapparia (BI.) Wend. Et Drude ex Scheffer). (6). Ingat penulisan dalam cetak miring atau digaris bawahi bukan merupakan peraturan utama dan tidak tercantum dalam ICBN (Internasional Code Botaniical Nomenclatur) penulisan bercetak miring atau bergaris bawah dua hanya untuk memudahkan pengenalan diiantara tulisan-tulisan lainnya. Ditulis cetak miring bila menggunakan komputer atau mesin tik yang dilengkapi dengan huruf Italic, dan digaris dua bila menggunakan mesin tik yang tidak dilengkapi dengan huruf Italic. (7). Bila anda kurang jelas atau tidak jelas tentang nama author (pemberian nama yang pertama), maka cukup tuliskan nama ilmiahnya saja. Jangan beranggapan bahwa adanya nama ilmiah, lalu tulisan anda akan naik peringkatnya. Dengan kesalahn penulisan nama author, maka kualitas penelitian atau tulisan ilmiah akan menjadi hancur. Ingat...... Nama ilmiah adalah semacam AKTA KELAHIRAN bagi satu tumbuhan yang telah, sedang dan akan diteliti. Jadi bila anda ragu-ragu dalam memberikan nama ilmiah jangan berikan nama yang salah. Tapi pastikan saja dengan nama lokal yang ada. Namun ketika sudah dipastikan nama ilmiahnya, maka berikanlah informasi terbaik kepada pembaca.
Baik tumbuhan maupun hewan nama ilmiah takson pada tingkat kategori jenis harus bersifat ganda (terdiri atas dua kata), berbentuk tunggal, dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang diperlakukan sebagai bahasa Latin. Kata pertama merupakan nama takson tingkkat marga (genus) yang membahawai jenis yang bersangkutan, kata kedua disebut petunjuk jenis atau epitheton specificum. Walau ada sementara orang atau buku yang menyebut kata kedua sebagai nama jenis, tetapi hal itu tidak tepat oleh karena pendapat itu bertentangan dengan asas  yang mengatakan bahwa nama jenis harus bersifat ganda. Direkomendasikan agar huruf pertama nama  takson tingkat genus saja uang ditulis dengan huruf besar, sedangkan untuk petunjuk jenis tidak perlu dimulai dengan huruf besar, sekalipun kata itu mungkin diambil dari nama orang atau daerah. Contoh berikut dapat memperjelas uraian di atas.
Nama takson tingkat kategori jenis tumbuhan : Cinchona ledgeriana
(1)                          (2)
Bila diperhatikan maka jelaslah bahwa (1) merupakan nama genus, ditulis dengan huruf pertama C (besar), sedang petunjuk jenis (2) ditulis dengan huruf kecil semua walaupun kata ledgeriana diambil dari nama orang ledger. Penerapan sistem ganda bagi jenis-jenis tumbuhan dilakukan secara konsisten, sehingga bila nama takson tingkat jenis untuk tumbuhan terdiri atas lebih dari dua kata, maka kata kedua dan berikutnya harus disatukan atau ditulis dengan tanda hubung.  Contoh : Hibiscus rosa sinensis ditulis Hibiscus rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis.
                Ketentuan lain mengatakan bahwa nama takson tingkat jenis untuk tumbuhan tidak boleh merrupakan suatu tautonim yaitu nama yang terdiri atas dua kata yang persis sama atau dua kata yang hampir sama. Misalnya : Linaria linaria (dua kata yang sama) Boldu boldus (dua kata yang hampir sama) setiap mempublikasikan suatu nama takson baru, nama tersebut harus disertai candra (deskripsi) atau setidak-tiidaknya diagnosis (candra singkat) yang disusun dalam bahasa latin. Berbeda dengan ketentuan tentang cara pemberian nama tumbuhan, cara pemberian nama takson tingkat jenis untuk hewan masih dibenarkan adanya tautonim seperti misalnya : Gallus gallus (ayam). Bahasa pada publikasi nama takson hewan baru tidak perlu bahasa lain, tetapi boleh dalam lain seperti bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jerman.
Dalam pengajaran Biologi, kkhususnya mempelajari klasifikasi tumbuhan, banyak siswa maupun gurunya beranggapan bahwa pelajaran tersebut bersifat hafalan semata. Belajar mengenal nama ilmiah atau penggolongannya, selain mengandung hafalan adalah yang utama belajar tentang fakta adalah lebih mudah dari pada menghafal nama-nama tumbuhan ataupun penggolongannya tanpa makna. Nama ilmiah tumbuhan ataupun penggolongannya adalah mengandung makna tentang sifat-sifat yang menonjol dari tumbuhan itu, atau yang menjadi ciri khasnya. Nama tumbuhan adalah menyatakan karakteristik atau sifat tertentu yang menonjol dari jenis tumbuhan itu. Karakteristik ini biasanya yang mudah dikenali dalam pengamatan, dan berhubungan dengan hal-hal berikut: 
1.       Sifat akarnya Nama bengkoang adalah lebih dikenali dari sifat akarnya yang menggembung, mengandung zat cadangan makanan berasa manis; akkar yang demikian disebut Pachyrrihizus (pachy = menggembung, rhizus = akar), maka nama ilmiahnya Pachyrrihizus erosus.
2.       Sifat Batangnya Nama kayu manis adalah lebih dikenali dari wangi batang dan kulit kayunya yang berwarna coklat (cinnameus) dan berasa manis; maka nama ilmiahnya Cinnamomum (kayu coklat/manis).
3.       Sifat Daunnya Tanaman hias tapak toke kebih dikenali dengan ciri daunnya yang menebal (crassus) berwarna bercak-bercak maka memiliki nama ilmiahnya Crassula (tapak toke, berdaun menebal). Contoh lain : Eceng gondok lebih dikenali dari tangkai daunnya yang menggembung seperti alat apung; maka nama ilmiahnya Euchornia crassipes. Kastuba lebih dikenali dengan daun-daunnya yang indah berwarna-warni (pulcher) dari genus Euphorbia; maka memiliki nama ilmiah : Euphorbia pulcherrima. Keji beling memiliki daun dan batangnya berwarna (colour), warna ungu; maka disebut Hemmigraphis colorata.
4.       Sifat Bunganya. Tumbuhan dadap lebih dikenali dari bunganya yang berwarna merah (erytrine); maka nama ilmiahnya Erytrina. Kacang babi berbunga warna keabu-abuan (tephros);maka disebut Tephrosin. Bunga kancing memiliki bentuk karangan bunga yang membulat (globe); maka disebut Gomprena globosa. Turi merupakan jenis Sesbania yang tergolong besar bunganya (grandiflora); maka disebut Sesbania grandiflora.
5.       Sifat Buahnya Delima memiliki bunga berwarna merah-delima (puniceus) dan bentuk buah membulat yang isinya berrbutir-butir (granum)  maka disebut Punica granatum. Kacang panjang berbuah bentuk silinder; maka disebut Vigna cylindrica. Srikaya dikenal buahnya tampak seperti bersisik (squama) disebut Annona squamosa. Leunca dikenal buahnya berwarna hitam bila telah menua; disebut Solanum nigrum (ingat bangsa Negro, berkulit hitam; hitam = niger, neggros). Kacang tanah dikenal dengan buahnya yang tumbuh didalam tanah (Hypo=bawah, geo=tanah); disebut Arachis hypogaea.
6.       Sifat bijinya Tumbuhan berbiji keping satu (Monocotyledoneae), tumbuhan berbiji keping dua (Dicotyledoneae). Ketika anda memakan jengkol (Phitecellobioum lobatum Syn. Archidendron jiringa), maka yang anda makan tersebut adalah kotiledon atau nama lainnya endosperma, keping biji, daging buah.
7.       Sifat rhizoma (akar tinggal)  Kulit memiliki akar tinggal berrwarna kuning, karena mengandung zat penguning (curcumin) untuk kebutuhan rumah tangga (domesticus); maka disebut Cuurcuma domestica. Temu lawak memiliki rizhoma berwarna kuning pucat; maka disebut Curcuma xanthorhiza.
8.       Sifat tumbuhan berumbi (memiliki tuber)  Solanum tuberosum (kentang) Polianthes tuberosa (bunga sedap malam)
9.       Sifat kandungan zatnya   Mengandung zat alkaloid seperti: Coffe sp. (kopi) mengandung kafein. Fapaver somniferum (penghasi; candu) mengandung fapaverin. Erytroxilon coca (mengandung kokain sejenis narkoba). Cannabis sativa (Ganja mengandung cannabinin). Mengandung zat rasa pedas (capsein) Capsicum annuum (cabe merah, berumur setahun). Capsicum frutescens (cabe rawit, berbatang mirip perdu/frutex, karea berumur lebih dari satu tahun). Mengandung zat penghangat (menthos) Mentha arvensis, penghasil minyak menthoos untuk pembuatan permen hangat atau obat batuk.
10.   Sifat kegunaannya   Bahan kebutuhan rumah tangga (domesticus) Lansium domesticum (duku), Curcuma domestica. Saccarum officinarum (tebu), Zingiber officinale (jahe) dan sebagainya. Bahan kebutuhan sehari-hari (Vulgaris) Foeniculum vulgare (adas, bahan kecap, obat-obatan). Phaseolus vulgaris (kacang buncis). Bahan kebutuhan pabrik (tertentu) Musa textilis (pisang manila, untuk karung). Nicotiana toobacum (tembakkau, untuk rokok). Papaver somniferum (opium = candu untuk obat tidur). Phyllantus urinaria (rumput meniran, obat lancar kencing/ginjal). Bahan untuk dimakan (edulis atau esculentum) dan kepuasan makan (sativus). Oryza sativa (padi/beras, makanan pokok Indonesia). Allium sativum (bawang putih, bumbu penyedap). Canna edulis (ganyong). Manihot esculenta (singkong, ubi kayu).
11.   Sifat Habitatnya  Ipomoea aquatica (kangkung – lingkungan air). Avicennia marina (kayu api-api hidup di pantai memiliki akar nafas). Musa paradisiaca (pisang di kebun raja). Sifat simbiontnya/ tumbuhan inangnya Anabaena azollae (jenis alga biru hidup di Azolla). Anabaena cycadeae (jenis alga biru hijau yang hidup di pakis haji Cycas rumphii). Sifat habitus/ kebiasaan tumbuh batangnya Tumbuhan memanjat (scandens) : Paederia scandens (kahitutan), Entada scanders. Tumbuh mengapung di air (natans). Salvinia natans (kyambang, apu-apuan). Percabangan batang tegak (erectus). Tagetes erecta (bungan tahi ayam- tanaman hias). Berhubungan dengan asal daerah/geografinya Sering digunakan sebagai penunjuk spesies tumbuhan biasanya ditambah akhiran –nsis, -nus, -icus, atau –atica. Contoh : Hevea brazilliensis (karet brasil), Coffea arabica, Persea americana (alpukat), Centela asiatica. Thea assamica, Dyospyros celebica, Salacca borneensis, Calamus karoensis, Clitoria ternatea.

1.3.3.        Epistomologi Taksonomi Tumbuhan
Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. Manusia tidaklah memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?
Epistemologi berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?.
Sebagai satu disiplin ilmu, maka taksonomi tumbuhan tidaklah dapat berdiri sendiri. Data-data yang digunakan untuk melakukan pencandraan setiap hari memerlukan keakuratan data sehingga diperlukan data-data tambahan selain data klasik morfologi. Dengan morfologi yang sama memungkinkan dua jenis tumbuhan yang tadinya sama dipisahkan setelah diketahui ternyata berbeda secara anatomi dan biokimia ata sitologi. Berikut ini diuraikan tentang data-data pendukung taksonomi tumbuhan antara lain :

1.  Morfologi :  Morfologi berasal dari kata morf yang artinya bentuk merupakan ilmu penting bagi Taksonomi Tumbuhan sebab banyak peristilahan dan ciri-ciri tumbuhan yang dipelajari dalam Morfologi Tumbuhan digunakan dalam mempertelakan suatu jenis tumbuhan. Tanpa MorfologiTtumbuhan tidak mungkin Taksonomi Tumbuhan dapat berkembang dengan baik. Ketika disebutkan nama ilmiah Platycerium bifurcatum, maka istilah Platy merupakan istilah Morfologi yang mengacu kepada sesuatu yang sifatnya pipih atau ceper. (Ingat : Platyhelminthes = cacing pipih dan Platypus = Binatang berparuh bebek). Semua peristilahan yang dalam Taksonomi Tumbuhan selalu menggunakan peristilahan Morfologi : Misalnya : feotida (sangat berbau), edulis (dapat dimakan), cauliflora (bunga tumbuh di batang), grandifalia (daunnya besar), Dipterocarpaceae (bijinya memiliki dua buah sayap), Pterocarpus indicus (pohon angsana atau sena berasal dari kata pteron =sayap: carpel = biji. Jadi artinya biji yang bersayap). Amorpophalus titanum (bunga bangkai raksasa bersal dari kata A = tidak ”morf”= bentuk ”phalus”= penis atau zakar ”titanium” dari kata titan arti dari kata titan yang raksasa atau besar sekali. Maka tumbuhan tersebut berarti penis yang tidak berbentuk dan ukurannya besar sekali dengan ketinggian mencapai 1,20 meter).    
2.   Anatomi :  Anatomi (tomain= irisan) tumbuhan pada hakekatnya adalah morfologi juga. Jika morfologi mengacu kepada bentuk-bentuk luar tubuh maka anatomi mengacu kepada bentuk-bentuk organ di dalam tubuh yang harus dilihat dengan mikroskop seperti bentuk sel epidermis, sel serangga, type stomata, jaringan palisade, jaringan bunga karang, dll. Penggunaan ciri-ciri anatomi tumbuhan dalam taksonomi baru berjalan kira-kira 100 tahun, setelah ditemukannya mikroskop dengan kekuatan tinggi. Penelitian dengan menggunakan mikroskop ini menjadi lebih jelas dan meyakinkan, terutama pada ciri-ciri yang meragukan apabila dilihat dengan mata telanjang. Penentuan kelopak yang berlekatan atau tidak berlekatan dengan mikroskop akan memberikan gambaran yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pengamatan mata telanjang. Prinsip-prinsip struktur anatomi dapat digunakan untuk klasifikkasi adalah :
  1. Bentuk anatomi mempunyai kaitan sifat dengan ciri-ciri lainnya.
  2. Ciri-ciri anatomi harus dikombinasikan dengan ciri-ciri lainnya.
  3. Ciri-ciri anatomi condong bermanfaat untuk klasifikasi kategori besar dan kurang bermanfaat untuk kategori di bawah genus.

Seringkali pada dunia tumbuhan terdapat dua tumbuhan atau dua spesimen yang persis sama secara morfologi, sehingga memiliki nama ilmiah yang sama. Peristiwa ini dapat dilihat pada tanaman Duku, Langsat, Pisitan dan Kokosan = Lansium Domesticum. Ketika nama ilmiahnya diberikan, maka berdasarkan spesimen yang ada terlihat ke empatnya memiliki persamaan secara morfologi sehingga diberi nama ilmiah yang sama. Akan tetapi sebagian besar orang indonesia dapat membedakan Langsat dengan Duku. Akibatnya dilakukan penelitian anatomi dan ternyata keduanya memperlihatkan perbedaan yang cukup menyolok dari bentuk dan jumlah jaringan epidermis dan jaringan palisade. Akibatnya ke dua jenis tersebut harus dipisahkan sehingga muncullah Lansium Domesticum dan Lansium dacco. Anatomi bentuk daun sering juga dapat digunakan untuk membedakan satu taksa dengan taksa yang lainnya. Pada pengamatan bentuk anatomi daun, ternyata Acer sp. dan Platonus sp. yang secara morfologi sangat mirip ternyata bentuk susunan anatomi daunnya sangat jauh berbeda. Banyak lagi studi anatomi batang tumbuhan berbunga yang dapat membedakan satu taksa dengan taksa yang lain. Pada suku Euphorbiaceae untuk semua anggota jenisnya dicirikan oleh adanya pembuluh lateks yang walaupun bentuknya mirip dengan kaktus, tetapi suku cactaceae tidak mempunyai pembuluh latex.
Variasi pola rambut epidermal atau trikhoma mungkin juga dapat digunakan sebagai ciri klasifikasi pada tingkat jenis-marga dan suku. Pada suku combretaceae diketahui bahwa peranan trikhoma cukup besar untuk membedakan kelompok dari suku hingga jenis bahkan varietas. Juga ciri Trikhoma digunakan untuk membedakan jenis-jenis dalam marga Vernonia. Trikhoma juga digunakan dan merupakan ciri penting untuk membedakan dan menganalisa hibrida-hibrida pada suku Compositae (Asteraceae). Trikhoma, epidermis, pallisade dan stomata adalah data-data dan ciri-ciri penting yang harus dilihat dengan mikroskop yang sangat berguna dalam melakukan identifikasi tumbuhan.
3.   Genetika : Genetika juga diperlukan sebagai pendukung ilmu Taksonomi Tumbuhan. Jika ada dua tumbuhan yang memiliki persamaan secara Morfologi dan Anatomi sedangkan ada semacam keyakinan dari peneliti bahwa keduanya merupakan jenis yang berbeda, maka secara Sitologi kita dapat memeriksa bagaimana struktur ddan jumlah kromosom dari keduanya. Jika ternyata memang memiliki kondisi yang berbeda, maka peluang untuk memisahkan kedua jenis tersebut cukup terbuka. Dalam penelitian ubi jalar (Ipomoae batatas (L) Lamk). Dikenal adanya istilah poliploidi, dimana jumlah kromosom 2n = 2x kelihatannya memiliki rasa yang sedikit pahit. Akan tetapi memiliki ketahanan terhadap virus Cylas. Sedangkan kerabat dekatnya yang dari Tarutung (Berwarna Jingga) memiliki kromosom 2n = 6x dan rasanya manis. Di Jawa Barat, kultivar ini digunakan sebagai campuran untuk rujak.
         Pisang yang dapat dimakan (Musa paradisiaca) adalah jenis yang bijinya jika ditanam tidak mampu lagi tumbuh. Namun pisang uncim (Musa halabanensis) adalah pisang yang masih liar dan hanya umbutnya yang dimakan oleh etnis Karo sebagai makanan adat. Jenis ini bila bijinya ditanam masih dapat tumbuh dan banyak ditemukan di hutan-hutan Sibolangit dan sekitarntya. Sifat yang demikian ini karena struktur kromosomnya yang diperkirakan masih 2n = 2x sedangkan Musa paradisiaca diperkirakan 2n = lebih dari 2x.
4.     Biokimia
Biokimia merupakan disiplin ilmu yang juga dibutuhkan dalam Taksonomi Tumbuhan. Dengan mengetahui kandungan kimia dari satu jenis tumbuhan, maka manfaat jenis tersebut dalam kehidupan dapat dimaksimalkan. Akibatnya upaya pembudidayaannya juga akan dilakukan secara maksimal. Beberapa jenis bahkan marga serta suku tumbuhan diambil berdasarkan kandungan kimianya seperti : Kafein (Coffea sp), Thein (Thea assamica), Pappain (Carica Papaya), Theobromin (Theobroma cacao), Canabinin (Cannabis sativa = Ganja), Kokain (Eriytroxylon coca), Asam Bromelin (Bromeliaceae = Suku nenas), Fapverin (Fapaver somniferum = Candu) Kinie (Cinchona ledgeriana), Oxalidaceae (mengandung asam-asam oksalat). Dengan diketahuinya kandungan kimia maka banyak tumbuhan akhirnya dimanfaatkan dalam kehidupan. Tebu (Saccharum officinarum) dan Aren (Arenga saccharrifera), Lontar (Borrasus flabellifer), Nipah (Nyfa fruticans) merupakan tumbuhan penghasil nira yang dapat diolah menghasilkan Sukrosa (C12H22O11). Akan tetapi bila nira tersebut diatas direaksikan dengan Saccharomyces tuac (kulit kayu raru) menghasilkan alkohol (Etanol = C2H5OH). Reaksi fermentasi ini ditemukan pada pembuatan tape yang berlangsung an-aerob (harus tertutup rapat). Perpaduan ilmu kimia dengan ilmu biologi (Botani) terlihat pada Biokimia dan Farmasi. Etnobotani sebagai jembatan antara ilmu Botani dengan Farmasi, mencoba menguak tumbuhan yang bernilai obat-obatan. Setelah tumbuhan tersebut dikenal dan banyak diulas, maka dicoba diekstrak lewat jalur Kimia dan dipasarkan kepada konsumen. Tegasnya obat-obat modern yang ada saat ini berawal dari obat-obat tradisional yang dipelajari dan dikembangkan sehingga kualitasnya menjadi lebih baik.
4. Ekologi: Ekologi membahas tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Kaitan ekologi dengan tumbuhan sedemikian eratnya sehingga dikenal istilah Phytogeografi (persebaran tumbuhan berdasarkan letak di permukaan bumi). Ipomoea pas-caprae, Nypa fruticans, Cocos nucifera dapat tumbuh dengan baik dikawasan pantai berdekatan dengan formasi Rhizopora sp. Dan Brugueira sp. Sedangkan Edelweis (bunga abadi), hanya ditemukan dikawasan dengan ketinggian tertentu di puncak gunung. Apel (Pyrus malus), Markisah (Passiflora edulis), Tomat (Lycopersicum esculenta), Paku tiang (Alsophyla glauca), Paku resam (Gleichenia linnearis) hanya mampu tumbuh dengan baik pada ketinggian tertentu dikawasan pegunungan. Pada beberapa jenis dikenal seperti Syzygium aquaeum, Ipomeae aquatica, Hydrilla verticillata, terlihat kesan bahwa keduanya merupakan tumbuhan yang hidupnya di air.
Berdasarkkan letak lintang dan bujurnya pun tumbuhan masih meperlihatkan adaptasinya yang berbeda. Tumbuhan yang ditemukan dikawasan tropik jarang ditemukan di kawasan ditemukan dikawasan sub-tropik maupun daerah kutub. Demikian juga sebaliknya. Bunga tulip (Liliodendron tulifera) hanya ditemukann di negeri Belanda, Bunga Sakura hanya ditemukan di Jepang, Kapas dan Gandum tumbuh dengan baik dikawasan Sub-tropik. Beberapa nama ilmiah bahkan mengambil nama wilayah seperti : Aleurites moluccana (kemiri; Moluccana = Moluccas = Maluku), Diospyros celebica (Celebica; celebes = Sulawesi). Salacca sumatrana (Salak Sidempuan; sumatrana = Sumatra bukan Sumatera), Salacca Borneensis (Borneo = Kalimantan), Pinanga Javana, Sambucus Javanicus (Java = Jawa), Calamus karoensis (Karo = Sumut), Mangifera Indica (Mangga; Indica = India), Camellia Sinensis (Teh; Sinensis, chinesis= China), Rhizobium japonicum (Bakteri akar Leguminosae. Japonicum = Jepang), Thea assamica  (Teh Assamica = Assam = Negara bagian India). Persea americana, Hevea braziliensis, Koffea arabica, Salacca sarawakensis. Nepenthes tobaica,

1.3.4.        Aksiologi Taksonomi Tumbuhan
Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?
Ketika kita berbicara tentang satu tumbuhan, biasanya konsep yang kita maksud berbeda dengan apa yang seringkali menjadi perkiraan orang lain. Sewaktu seseorang minta dibelikan pisang, maka orang yang disuruh pasti akan kembali bertanya pisang apa?. Konsep pisang dalam Bahasa Indonesia masih memiliki sejumlah variabel lain yang lebih kecil. Ada pisang Raja, Ambon, Batu, Gedang, Banten, Tanduk, Kepok dll. Konsep pisang yang dimaksud disini dinamakan dengan konsep yang masih jamak yang lebih dikenal dengan marga (Musa spp.). Padahal dalam benak orang itu yang dimintanya adalah Pisang Raja misalnya. Konsep pisang Raja mengacu kepada konsep yang lebih spesial dan kategorinya lebih kecil. Dalam Taksonomi Tumbuhan lebih dikenal dengan istilah spesies.
Spesies sebagai satuan terkecil dalam kategori takson merupakan satuan atau batu dasar dalam membahas dunia botani. Dalam hal ini spesies merupakan dasar bergerak pada setiap penelitian yang berkaitan dengan Botani Sisrtematika.
                Dalam Taksonomi Tanaman Budidaya (ICNCP), maka kategori spesies ke bawah merupakan landasan bergerak yang sering digunakan. Biasanya berkaitan dengan kultivar (varietas yang dibudidayakan = cultivar = cultivated variaetis), kion, galur, type, biotype, nomor, dll. Kategori di bawah jenis/ spesies ini sering digunakan ddalam dunia pertanian (agriculture) dan nursery serta pemuliaan tanaman (Breeding) oleh para breeder di negara yang mengakui breeder right (hak para pemulia) dan farmer right (hak para petani sebagai konserver).
Breeeder right  adalah semacam hak kepemilikan karya cipta intelektual dalam bentuk hybrid-hybrid yang dihasilkan. Seorang pemulia tanaman yang berhasil membuat satu silangan baru dapat mengajukan hak kepemilikan karya tersebut kepada lembaga paten dengan tujuan agar kepada siapa saja yang menggunakan hak ciptanya [tersebut dikenakan semacam fee atau bayaran. Namun jika breeder right diakui, maka pemulia tadi juga harus menghormati petani sebagai pemilik hak yang telah melakukan konservasi dan domestikasi terhadap tumbuhan tersebut. Hak inilah yang disebut sebagai farmer right (hak para petani). Di Indonesia lembaga yang mengurus masalah ini dikenal dengan nama lembaga HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).
Bahasa latin merupakan bahasa penting dalam Taksonomi Tumbuhan, bahkan merupakan satu bagian dari asas-asas tata nama tumbuhan. Bahasa Latin adalah bahasa dari suku Latin yang kini sudah punah. Suku Latin mendiami kawasan Italia. Ketiak Kaisar Romawi tidak menghedaki kehadiran mereka yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi, maka mereka diusir dari Italia dan pindah ke kawasan Yunani (Greek). Dari sinilah diperjelas kepada siswa atau mahasiswa bahwa bahasa Latin itu tidak sama dengan bahasa Greek (Yunani). Dari keterangan di atas, maka dapat diperjelas bahwa bahasa Latin tidak sama dengan bahasa Yunani. Dalam penulisan biasanya diberi semacam penjelasan dalam tanda kurung (Lt) untuk bahasa latin atau (Gr.) untuk bahasa Yunani.
Taksonomi sebagai salah satu cabang biologi ternyata diperlukan oleh ilmu-ilmu lain. Beberapa cabang biologi menunjukkan ketergantungan pada taksonomi. Dalam ilmu ekologi, taksonomi merupakan dasar yang sangat esesial, sebab hampir tidak ada survai ekologi yang tidak memerlukan identifikasi spesies. Berbicara tentang spesies berarti kita berbicara tentang taksonomi atau sistematika. Dalam kaitannya dengan ilmu lain, taksonomi sangat penting di dalam geologi dan stratigrafi. Kedua cabang ilmu terakhir itu sangat memerlukan ketepatan identifikasi fosil yang dipandang sebagai spesies kunci. Di dalam taksonomi dikenal adanya beberapa genus yang mempunyai 2 atau lebih spesies yang menunjukkan ciri-ciri yang sangat mirip. Spesies-spesies itu mungkin lebih mudah dibedakan satu sama lain dari sifat fisiologinya dari pada ciri morfologi luar. Dalam hal ini terlihat adanya hubungan yang sangat erat antara taksonomi dan fisiologi.
Dalam bidang botani, peranan taksonomi dapat digambarkan sebagai berikut: Berdasarkan atas pengkajian hubungan kekerabatan antar tumbuhan, dapat ditunjukkan adanya jenis-jenis tumbuhan yang berguna sebagai obat-obatan, bahan industri perkayuan, dan lain-lain. Selain itu sistematik juga mempunyai peranan di dalam usaha memperoleh bibit unggul. Dengan bekal pengetahuan alat sistematika kita dapat mengenal berbagai jenis tumbuhan yang berguna untuk mencandra lingkungan suatu daerah.
Seiring dengan perkembangan waktu, maka Biologi berkembang manjadi disiplin ilmu yang memiliki berbagai cabang yang mencakup Botani, Zoologi dan Mikrobiologi. Satu diantaranya adalah Taksonomi Tumbuhan. Taksonomi Tumbuhan adalah satu disiplin ilmu cabang Botani yang khusus mempelajari tentang  pencirian, penamaan, penggolongan dan penelusuran kekerabatan. Ciri dan nama merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menyatakan tentang nama sebuah benda, atau nama satu buah-buahan, maka secara tidak langsung orang tersebut telah melakukan semacam kesimpulan untuk sebuah ciri-ciri dengan satu nama. Konsep ini menjadi lebih jelas ketika seseorrang ditanya tentang sebuah nama buah atau tanaman atau tumbuhyan yang sama sekali belum dikenalnya. Maka secara langsung orang yang ditanya kembali akan bertanya bagaimana ciri-ciri dari nama yang ditanya tersebut.
Nama merupakan satu bagian penting dalam kehidupan. Demikan juga halnya dengan nama dalam komunikasi ilmiah yang lebih dikenal dengan nama ilmiah (scientific names). Kalau komunikasi ilmiah menggunakan nama lokal sering kali menyebabkan permasalahan dalam penafsiran. Misalnya saja terjadi komunikasi dan membicarakan masalah pembuatan sayur daun ubi tumbuk (Manihot utilissima) maka digunakan sejenis pewangi sayuran yang di Jawa namannya combrang atau kecombrang, namun dengan orang Sunda namanya Honje. Ketika kita berada di Medan namanya adalah kincong atau kencong atau kincung yang masih memiliki variasi lagi seperti siala, cekala, rias, dll. Masih banyak lagi permasalahan dalam hal nama lokal dan nama ilmiah yang lebih dikenal dengan nama homonim atau sinonim. Misalnya Zanthoxylum acanthopodium yang di Tapanuli dikenal sebagai Andaliman, maka di Tapanuli Selatan dikenal sebagai Sinyarnyar dan di Karo dikenal sebagai Tuba namun di Gayo (Takengon) dikenal sebagai Empan. Billa orang suku Karo membutuhkan Tuba dan mencarinya dengan orang suku Melayu, maka akan diberikan sejenis tumbuhan yang akarnya mengandung racun. (Derris eliptica). Jadi konsep tuba yang berbeda akan memberikan kesan dan maksud yang berbeda dalam pelaksanaan hidup sehari-hari. Sedangkan jika seandainya nama tersebut diberikan dalam bahasa ilmiah (Bahasa Latin), maka dimanapun di dunia ini nama tersebut telah menjadi semacam kesepakatan internasional. Meskipun pada tahap awalnya hanya dikenal oleh kelompok ilmuwan dari golongan ilmu-ilmu Botani. Dari pengelompokan tumbuhan kita berlanjut ke penelusuran kekerabatan. Ketika kita memberikan nama ilmiah kepada pohon Waru menjadi Hibiscus tiliaceus maka secara spontan kita telah menyatakan bahwa antara Waru (Hibiscus tillaceus) dengan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) merupakan saudara kerabat dekat dan satu marga yaitu sama-sam marga Hibiscus. Dengan melihat nama ilmiah kita secara spontan dapat menyatakan bahwa kekerabatan antara Hibiscus rosa-sinensis, Hibiscus rosa-arceri, Hibiscus schizopetalus, Hibiscus sabdariffa, Hibiscus tiliaceus merupakan satu kerabat dekat. Demikian juga antara Ipomoea tripida, Ipomoea batatas, Ipomoea reptansi, Ipomoea aquatica, Ipomoea pas-caprae, merupakan kerabat dekat.

1.4. Simpulan
Berdasarkan pembahasan dan ulasan yang dilakukan berkaitan dengan kajian filsafat terhadap Taksonomi Tumbuhan, maka diajukan beberap simpulan antara lain :
1.        Secara Ontologi yang berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya, maka Taksonomi Tumbuhan merupakan satu pengetahuan yang membahas tentang pencirian, penamaan, pengelompokan dan penelusuran kekerabatan.
2.        Secara epistemologi yang berusaha menjawab bagaimana proses, prosedur, kaidah, kriteria yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan, maka Taksonomi Tumbuhan berkembang melalui pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari antara satu kondisi dengan kondisi yang lain, kebutuhan-kebutuhan hidup, sehingga melahirkan pengelompokan  berdasarkan manfaat, habitus, filogenetik, alamiah, dan lain sebagainya. Kaidah yang diajukan adalah dengan adanya taksonomi, maka akan memudahkan pekerjaan-pekerjaan manusia.
3.        Secara aksiologi menjawab, untuk apa, bagaimana kaitannya dengan kaidah moral, sehingga  pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan, maka  Taksonomi Tumbuhan sebagai satu pengetahuan, memberikan kepastian status satu spesies sehingga hasil penelitian yang dilakukan dapat dikaji ulang, dikembangkan ataupun dimanipulasi sehingga memberikan manfaat dalam kehidupan manusia menuju ketercapaian tujuan hidup yang diinginkannya. Dengan singkat Taksonomi  memberikan kepastian batasan takson, kekerabatan, ciri dan nama yang sangat berguna dalam memanipulasi satu jenis tumbuhan untuk dimanfaatkan dalam berbagai aktifitas kehidupa.

Daftar Pustaka
Harsono, T. 2011. Taksonomi Tumbuhan Tingkat Tinggi. Penerbit FMIPA Unimed. Medan.
Kattsouff, LO. 1996.  Pengantar filsafat, Tiara Wacana, Yogjakarta.
Muhadjir,N. 2001. Filsafat Ilmu, Penerbit Rake Sarasin, Yogjakarta, 2001  
Rifai, MA.  1995. UT Taxonomiam Defendamus. Naskah Pidato pengukuhan Guru Besar di FMIPA UI

Suriasumantri, JS.  1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.


TAKSONOMI TUMBUHAN
(Sebuah Kajian  Filsafat) 


OLEH :

TRI HARSONO
NIM. 118109002
  

  

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2012





KATA PENGANTAR

Ucapan puji dan syukur  dihatukan ke hadirat Allah SWT yang atas limpahan nikmat kesehatan dan kejernihan fikiran sehingga penyusunan laporan tugas perkuliahan yang berjudul “ Taksonomi Tumbuhan (sebuah Kajian Filsafat)“ ini dapat diselesaikan sebagaimana  yang direncanakan.
Laporan penulisan ini memuat sejumlah konsep dan buah-buah fikiran dari berbagai ahli dan penulis sendiri tentang kajian filsafat dari taksonomi Tumbuhan. Penulis menyadari bahwa sejumlah kekurangan dan kelemahan masih mungkin ditemukan dalam proposal ini, untuk itu kritikan, masukan dan saran untuk perbaikannya diterima dengan senang hati.
Ucapan terimakasih dihaturkan kepada Prof. Dr. Syafruddin Ilyas, M. Biomed. selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Sains pada program S-3 Sekolah Pascasarjana USU, atas segala bimbingan, arahan dan masukan yang diberikan pada saat perkuliahan sehingga penyusunan laporan tugas yang terkait mata kuliah ini dapat diselesaikan.
Akhirnya penulis berharap semoga laporan penulisan ini memberikan manfaat kepada siapa saja penggunanya.

Medan,   Januari 2012
Penulis,

Tri  Harsono
NIM. 118109002
























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar