Senin, 12 Juni 2017


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.   Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di beberapa lokasi seperti (1) Pengambilan sampel dilakukan di beberapa tempat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Maluku, (2) Pengamatan keanekaragaman morfologi dilakukan di Herbarium Bogoriense, Kebun Raya Bogor, dan Laboratorium Biologi FMIPA Unimed, (3) Pengamatan data molekuler dilakukan di laboratorium PKHT IPB Bogor dan Laboratorium Biologi Molekuler FMIPA UNIMED Medan, dan (4) Pengamatan data data spasial distribusi dilakukan di Laboratorium Biologi FMIPA Unimed.
Waktu penelitian dimulai sejak Tahun 2012 hingga Januari 2016 terhitung sejak dilakukannya eksplorasi koleksi gandaria di beberapa wilayah Indonesia, analisis morfologi, analisis molekuler menggunakan penanda ISSR dan cpDNA sekuen trnL-F intergenic spacer, hingga terselesaikannya analisis data spasial distribusi.

3.2.   Populasi dan Sampel Penelitian
            Populasi penelitian adalah seluruh gandaria yang ditemukan di kawasan Indonesia, baik koleksi Herbarium maupun koleksi segar. Sampel yang diamati berdasarkan survey lapangan adalah sebanyak 75 aksesi B. macrophylla dan 30 aksesi B. oppositifolia sedangkan pengamatan berdasarkan herbarium sebanyak 29 aksesi B. macrophylla dan 30 aksesi B. oppositifolia.

3.3.   Bahan Penelitian
3.3.1. Pengamatan Keanekaragaman Morfologi marga Bouea di Indonesia
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel segar B. macrophylla (75 aksesi) dan B. oppositifolia (30 aksesi) (Tabel 1). Sampel dikumpulkan dari seluruh Indonesia meliputi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Ambon dan Banten (Gambar 3.1). Bahan yang diperoleh sebagian besar tumbuh liar dan hanya sebagian kecil yang dengan sengaja ditanam.

Tabel 1. Sampel Bouea dari berbagai wilayah di Indonesia
No.
Jenis
Provinsi
Jumlah
1
B. oppositifolia (Roxb.) Adelb.
Sumatra Utara                  
5
2
B. oppositifolia (Roxb.) Adelb.
Riau                                      
1
3
B. oppositifolia (Roxb.) Adelb.
Kep. Bangka Belitung     (BL)
19
4
B. oppositifolia (Roxb.) Adelb.
Kebun Raya Bogor           (KR)
5
5
B. macrophylla Griffit.
Ambon                                 (AM)
14
6
B. macrophylla Griffit.
Banten                                 (BA)
8
7
B. macrophylla Griffit.
Sumatra Barat                   (BS)
5
8
B. macrophylla Griffit.
Bogor                                    (BO)
13
9
B. macrophylla Griffit.
Jambi                                    (JB)
2
10
B. macrophylla Griffit.
Kalimantan Barat              (KB)
6
11
B. macrophylla Griffit.
Kalimantan Selatan         (KS)
18
12
B. macrophylla Griffit.
Palembang                         (PLB)
2
13
B. macrophylla Griffit.
Lampung                             (LP)
1
14
B. macrophylla Griffit.
Bangka Belitung                (BL)
1
15
B. macrophylla Griffit.
Medan                                 (MDN)
1
16
B. macrophylla Griffit.
Aceh                                      (SN)
1
17
B. macrophylla Griffit.
Kebun Raya Bogor           (KRB)
3
Total
105


Gambar 3.1 .  Wilayah pengambilan sampel berdasarkan studi lapangan dan herbarium

3.3.2.  Pengamatan Keanekaragaman Molekuler (ISSR) Gandaria Indonesia
Sampel segar B. oppositifolia diperoleh dari Sumatra Utara, Riau, Bangka Belitung, dan Kebun Raya Bogor yang memiliki B. oppositifolia yang berasal dari Lampung, Bangka Belitung, dan Sumatra Barat. Sampel segar B. macrophylla diperoleh dari Ambon, Banten, Sumatra Barat, Bogor, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kebun Raya Bogor, Palembang, Lampung, Bangka Belitung, Medan, dan Aceh (Tabel 1). Sampel segar yang digunakan dalam pengamatan menggunakan penanda molekuler ISSR adalah sebanyak 75 aksesi B. macrophylla dan 30 aksesi B. oppositifolia sama dengan sampel yang digunakan dalam variasi morfologi.

3.3.3.  Pengamatan Keanekaragaman Molekuler (cpDNA) Gandaria Indonesia
Sampel B. macrophylla (6 aksesi) dan B. oppositifolia (7 aksesi) diperoleh dari berbagai wilayah di Indonesia yang mewakili 7 wilayah yang dianalisis pada penelitian ini yaitu Ambon, Banten, Aceh, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sumatra Utara, dan ditambah dari aksesi Kebun Raya Bogor. Outgroup yang digunakan dalam pengamatan menggunakan cpDNA sekuen trnL-F intergenic spacer merupakan kerabat dekat dari genus Bouea yaitu Mangifera indica dan Anacardium occidentale yang diperoleh dari Kebun Raya Bogor. Aksesi Bouea yang digunakan dalam analisis disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2.  Sampel Bouea dan outgroup yang digunakan untuk analisis kekerabatan
No
Asal Aksesi
Kode
Jenis Bouea
Jumlah
1.
Aceh
SN
B. macrophylla
1
2.
Sumatra Barat
BS4
B. macrophylla
1
3.
Kalimantan Barat
KB5
B. macrophylla
1
4.
Ambon
AM1
B. macrophylla
1
5.
Banten
BA5
B. macrophylla
1
6.
Kebun Raya Bogor
KR4
B. macrophylla
1
7.
Sumatra Utara
GT, SP
B. oppositifolia
2
8.
Bangka Belitung
BL12
B. oppositifolia
1
9.
Kebun Raya Bogor
KR1, 2, 3, 5
B. oppositifolia
4
10.
Kebun Raya Bogor
MI
M. indica
1
11.
Kebun Raya Bogor
AO
A. occidentale
1

Total
15


3.3.4.  Pengamatan Distribusi Spasial Gandaria Indonesia
Data ekologi dan geografis dikumpulkan dari 30 lembar spesimen herbarium B. oppositifolia dan 29 lembar spesimen herbarium B. macrophylla. Pengamatan spesimen herbarium dilakukan di Herbarium Bogoriense, Center of Biology, Indonesia Institute of Sciences (LIPI), Cibinong, Indonesia dengan mengamati seluruh spesimen herbarium genus Bouea. Data tersebut kemudian digabungkan dengan informasi yang diperoleh dari studi lapangan. Data koordinat pada studi lapangan di seluruh Indonesia menggunakan alat berupa GPS (GPS-Garmine Etrex 30). Studi lapangan ini dilakukan di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Maluku, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Selatan. Jumlah titik koordinat yang ditemukan pada studi lapangan adalah 75 titik B. macrophylla dan 30 titik B. oppositifolia.
Data ekologis yang digunakan pada analisis spasial dalam menentukan pemodelan distribusi sesuai dengan kesesuaian habitat diperoleh dari berbagai sumber seperti yang tertera pada Tabel 3:

Tabel 3. Sumber data ekologis dalam analisis spasial
Variabel Ekologis
Minimum Resolusi
Sumber
Kemiringan lahan (slope)
1 km
www2.jpl.nasa.gov/srtm/dataprod.htm
Tutupan lahan (land cover)
30 m
glcf.umiacs.umd.edu/data/
Iklim (climate)
1 km
www.worldclim.org
Jenis tanah (soil type)
10 km
www.daac.ornl.gov/SOILS/ soils_collections.html
Curah hujan (rainfall)
1 km
www.worldclim.org
Ketinggian (elevation)
90 m
http://srtm.csi.cgiar.org/
Suhu (temperature)
1 km
Musim (seasonality)
1 km
www.worldclim.org
Kelembaban relatif
1 km
www.worldclim.org
Aspect
1 km
http://srtm.csi.cgiar.org/
Tekstur Tanah
10 km
www.fao.org/AG/agl/agll/prtsoil.stm
pH tanah
10 km
www.fao.org/AG/agl/agll/prtsoil.stm

  3.4.   Metode Penelitian
Langkah langkah penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data-data hasil penelitian dilakukan berurutan seperti tertera pada uraian berikut :

 3.4.1. Metode Penelitian Keanekaragaman Morfologi
Pengamatan morfologi untuk dapat menetapkan keberadaan jenis di bawah marga Bouea mengacu pada kriteria yang digunakan oleh Rifai (1976) dan Vogel (1987). Beberapa ciri morfologi digunakan dalam penyusunan dendogram untuk mendapatkan pengelompokan aksesi Bouea hasil koleksi. Dokumentasi dilakukan dengan menggunakan kamera digital. Pengelompokan disusun berdasarkan sifat ciri morfologi terutama ciri diagnostik buah dan daun. Untuk melakukan pengamatan keanekaragaman morfologi dilakukan pengamatan terhadap bagian bagian seperti yang tertera pada Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Karakter morfologi yang digunakan dalam penelitian ini
No
Karakter Morfologi
Sub Karakter
Jumlah Karakter
1
Bentuk Pohon
Dropping,Spreading
2
2
Kerapatan Tajuk
Rapat, Bercelah
2
3
Permukaan batang muda
Berbulu, tidak berbulu
2
4
Bentuk daun
Jorong, bulat telur sungsang, lonjong & bulat telur sungsang, jorong & bulat telur sungsang, lonjong, jorong memanjang
6
5
Letak Daun
Berhadapan, tersebar
2
6
Panjang daun
Sangat panjang, panjang, sedang, pendek
4
7
Lebar daun
Sangat lebar, lebar, sempit
3
8
Ujung Daun
Meruncing, meruncing dan tumpul, tumpul, membelah
4
9
Pangkal Daun
Runcing, runcing dan tumpul, tumpul
3
10
Ukuran Ujung Daun
Panjang, pendek, tidak memiliki ujung daun
3
11
Warna Permukaan Atas Daun
Hijau  tua, hijau muda
2
12
Warna Permukaan Bawah Daun
Hijau  tua, hijau muda
2
13
Permukaan Atas Daun
Mengkilap, kusam
2
14
Permukaan  Bawah Daun
Mengkilap, kusam
2


Lanjutan Tabel 4.
No
Karakter Morfologi
Sub Karakter
Jumlah Karanter
15
Tekstur Permukaan Daun
 Halus, Kasar
2
16
Bentuk Permukaan Daun
Daun datar, cembung, lengkung
3
17
Bentuk Tangkai Daun
Pipih, bulat, persegi
3
18
Ukuran  Tangkai Daun
Sangat panjang, panjang, pendek
3
19
Bentuk  Tunas Muda
Runcing, bulat
2
20
Permukaan Tunas Muda
Berbulu, licin
2
21
Jumlah Tulang Sekunder Daun
Banyak, sedikit
2
22
Batu Terpentin Pada Daun
Tidak Berbau, Berbau, Sangat Berbau
3
23
Jenis Daun di Setiap Pohon
Sama,  Berbeda
2
24
Tipe Bunga
Ujung, Ketiak Daun
2
25
Warna buah
Merah, Kuning
2
26
Bentuk buah
Bulat lonjong, bulat, lonjong, lonceng
4
27
Ukuran buah
Kecil, besar, sangat besar
3
28
Warna daging buah
Merah, kuning
2
29
Rasa buah
Manis, asam manis, asam sepat
3
30
Warna Biji
Ungu, putih
2
31
Tipe Buah
Asli, semu
2
Total
81

Data morfologi hasil pengamatan terhadap spesimen herbarium didata dan dianalisis kesamaan dan perbedaan untuk menentukan kelompoknya. Hasil pengamatan data spesimen gandaria dari semua wilayah penelitian didata dan disusun dalam satu bentuk matriks untuk kemudian dianalisis kesamaan dan perbedaan guna menentukan kelompoknya menggunakan analisis klaster.

3.4.2. Metode Penelitian Keanekaragaman Molekuler dengan Penanda ISSR
         dan Analisis Kekerabatan Menggunakan Penanda cpDNA sekuen trnL-F
         intergenic spacer

         a. Isolasi DNA
Analisis molekuler dilakukan dengan menggunakan sampel segar daun gandaria yang diperoleh dari studi lapangan di seluruh Indonesia. Isolasi DNA dilakukan berdasarkan metode  Doyle &  Doyle  (1987). Sekitar 0.15 mg daun digerus pada mortar yang diberi pasir kuarsa dan  0.6-0.8 ml buffer ekstraksi (10% CTAB; 0.5 M EDTA (pH 8.0); 1 M Tris-HCl (pH 8.0), 5 M NaCl; 1% b-mercapto ethanol) dan kemudian divorteks agar homogen. Campuran selanjutnya diinkubasi di dalam waterbath pada suhu 65oC selama 1 jam. Pemurnian DNA dilakukan dengan penambahan 0.6-0.7 ml buffer purifikasi/buffer CIA (Chloroform : Isoamil Alkohol = 24:1), dan pemisahan fraksi di dalam campuran dilakukan dengan  sentrifugasi 11000 rpm selama 10 menit. Setelah itu fase cair (supernatan) yang diperoleh dipindahkan ketabung mikrosteril ukuran 1000 µl yang baru. Jika masih terdapat residu, ini dapat diulang 2-3 kali tergantung kualitas DNA yang dihasilkan. Selanjutnya ditambah dengan 500-600 µl 2-propanol dingin, diinkubasi pada freezer selama 1 malam. Fase cair dibuang dan fase padat/pelet dikeringkan anginkan. Selanjutnya pelet dilarutkan dalam 50 - 100 µl TE (1 M Tris-HCl pH 8.0;  0.5 M EDTA pH 8.0; dan aquades).

b.      Amplifikasi DNA dengan penanda ISSR
Amplifikasi DNA dilakukan dengan menggunakan 7 primer ISSR (Tabel 5) yang telah melewati uji pendahuluan berupa pemilihan primer dengan tingkat pita polimorfik yang tinggi.  Volume reaksi PCR  adalah 25 μl  terdiri dari 2 μl (20 ng)  DNA genom, 1 μl masing-masing primer reverse dan forward (10 pmole), 12,5 μl Taq polymerase  (KAPA2GTM Fast ReadyMix (2x) with Loading Dye), serta 9.5 μl ddH2O (aquabidest).

Tabel 5. Primer yang akan digunakan untuk analisis ISSR
No
Nama Primer
Sekuen
Sekuen
Tm (oC)
1
PKBT3
(AG)8T
AGAGAGAGAGAGAGAGT
55
2
PKBT4
(AG)8AA
AGAGAGAGAGAGAGAGAA
55
3
PKBT5
(AG)8TA
AGAGAGAGAGAGAGAGTA
55
4
PKBT7
(GA)9A
GAGAGAGAGAGAGAGAGAA
55
5
PKBT9
(GA)9T
GAGAGAGAGAGAGAGAGAT
55
6
PKBT10
(GT)9A
GTGTGTGTGTGTGTGTGTA
55
7
PKBT12
(GT)9T
GTGTGTGTGTGTGTGTGTT
55
(Sumber : Tomar, et.al 2011)

Program PCR untuk ISSR adalah : (1) denaturasi awal 97oC  selama  4 menit (1 siklus); (2) PCR  yang  terdiri dari denaturasi 97oC  selama  satu menit, annealing55oC selama satu menit, dan  72oC selama 2 menit  (39 siklus); dan (3) perpanjangan akhir 72oC selama 4 menit (1 siklus) kemudian (4) pendinginan pada 4oC. Produk PCR hasil amplifikasi divisualisasikan dengan elektroforesis dengan menggunakan 1 % agarose gel pada TBE buffer dan  diwarnai dengan 4 µl SYBR® Safe DNA Gel Stain. Sebanyak 7 µl produk PCR ditambahkan dengan Loading dye 1 µl di running bersama dengan marker 100 bp DNA Ladder menggunakan elektroforesis pada tegangan 100 Volt selama 45 Menit. Visualisasi pita yang muncul dilakukan dengan menggunakan  Gel Documentation yang dilengkapi dengan sinar UV. Gel yang muncul kemudian di scoring menggunakan program Gel Pro Analyzer dan pembuatan dendogram serta analisis jarak genetik menggunakan NTSys PC versi 2.02 dan POPGENE versi 1.32.

c. Amplifikasi dan visualisasi penanda cpDNA sekuen trnL-F intergenic spacer
Fragmen DNA intergenic spacer trnL-F  diamplifikasi  dengan pasangan  primer cpDNA forward 5’-GGTTCAAGTCCCTCTATCCC-3’ dan cpDNA reverse 5’-ATTTGAACTGGTGACACGAG-3’ (Small et al., 2005) dengan total volume reaksi 25 µl (2,5 µl DNA template; 2,5 µl primer forward; 2,5 primer reverse; 5µl distilled water, 12,5 µl PCR mix (FastStart PCR Master Mic Roche). Amplifikasi daerah DNA trnL-F intergenic spacer menggunakan mesin PCR Thermalcycler (Qiagen) dengan kondisi pre-denaturasi selama 5 menit pada suhu 970C diikuti 40 siklus dengan kondisi reaksi denaturasi pada suhu 940C selama 5 menit, annealing pada suhu 520C, dan extension pada suhu 72 0C selama 1 menit, kemudian proses PCR akhiri dengan post-extension pada suhu 72 0C selama 5 menit. Produk PCR divisualisasi menggunakan gel agarose 1% (1 gram agarose ditambah 100 ml buffer TBE) ditambah dengan 4 µl SYBR ® Safe DNA Gel Stain. sebanyak 6 µl produk PCR ditambah dengan 1 µl loading dye di running bersama marker 100 bp DNA ladder menggunakan mesin elektroforesis dengan fase gerak berupa buffer TBE 1X pada tegangan 100 volt selama 45 menit. Visualisasi pita yang muncul menggunakan gel documentation. Produk PCR dengan pita yang terlihat selanjutnya akan dikirim ke 1st Base DNA Sequencing Service untuk di sekuensing.


3.4.3. Metode Penelitian Distribusi Spasial
         a. Input data dan persiapan data
Input data dan persiapan data merupakan tahap awal bekerja menggunakan ArcGIS 10.3. Pada tahap ini data berupa titik koordinat yang dihasilkan dari GPS ketika melakukan pengamatan lapangan  diubah ke dalam bentuk data yang di dukung oleh ArcGIS 10.3 sehigga data dapat dianalisis. Tahap ini merupakan tahapan penting untuk mengubah data koordinat ke dalam bentuk shapefile (*.shp).

1)      Mempersiapkan data menggunakan program Microsoft Excel (versi 2007)
§  Buka program Excel dan buat lembar kerja baru
§  Masukkan data pada setiap kolom
§  Data korrdinat yang digunakan harus dalam format decimal degree (DD). Jika data masih dalam format degree, minutes, and seconds (DMS), maka data harus dikonversi ke format DD dengan rumus (DD=degree) + (Minutes/60) + (seconds/3600).
§  Masukkan data format DD ke dalam lembar kerja Excel pada kolom yang berbeda untuk data longitude dan latitude serta kolom ID.
§  Simpan data pada format Excel yang telah dibuat.
§  Lembar kerja Excel tidak boleh memiliki baris yang kosong, baris pertama secara otomatis terbaca sebagai field name dan data koordinat harus dalam format angka (tidak tertulis “m” untuk meter dan sebagainya).
§  Karena dalam analisis juga menggunakan format comma separated value (.csv) maka data yang telah di tulis ke dalam excel (.xlsx) kemudian di convert ke dalam format comma separated value (.csv).
§  Konversi file excel tersebut dilakukan dengan cara melakukan Save As. Sebuah jendela akan muncul, pada bagian Save As Type, pilih CSV (Comma delimitated) (*.csv), lalu klik Save

2)      Impor data Excel ke dalam program ArcGIS 10.3
§  Klik menu “File” dan selanjutnya pilih “Add Data” dan “Add XY Data”. Pada jendela “Add XY Data” klik tombol “Browse” pada pilihan “Choose a table from the map or browse for another table”.
§  Pilih data Excel yang telah dibuat sebelumnya kemudian pilih “Sheet1$” yang menandakan bahwa data tersebut berada di Sheet 1 pada data Excel yang telah dibuat sebelumnya.
§  Memastikan bahwa “X field” berisi data longitude dan “Y field” berisi data latitude lalu pilih “OK”.
§  Data yang dihasilkan sekarang masih temporer. Untuk mengubah ke dalam bentuk shapefile dilakukan dengan cara klik kanan pada layer data koordinat pada “Table of Content” lalu pilih “Data” selanjutnya “Export Data”.
§  Pilih “Export: All features” kemudian “Output Class Featureset” dan simpan data dengan format shapefile.
§  Setelah itu, hapus data Excel pada “Table of Content” dengan cara klik kanan data lalu pilih “Remove”. Selanjutnya masukkan data dengan format shapefile yang sebelumnya telah dibuat.
§  Data dengan format shapefile dapat digunakan.

3.5. Analisis Data
 3.5.1. Analisis Data Keanekaragaman Morfologi
Data morfologi hasil pengamatan terhadap spesimen herbarium didata dan dianalisis kesamaan dan perbedaan untuk menentukan kelompoknya. Hasil pengamatan data spesimen gandaria dari semua wilayah penelitian didata dan disusun dalam satu bentuk matriks untuk kemudian dianalisis kesamaan dan perbedaan guna menentukan kelompoknya. Pengelompokan disusun berdasarkan 31 karakter morfologi dan 81 sub-karakter morfologi yang dianalisis.
Untuk menganalisis pengelompokan antar aksesi dilakukan dengan analisis similaritas menggunakan program NTSYS versi 2.02 pengelompokan SAHN dengan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method With Arithmatic Average) dengan menghitung koefisien kemiripan dan menentukan klaster setiap aksesi yang dianalisis. Hasil klaster kemudian dikonfirmasi menggunakan Plot 2D principal component analysis.

3.5.2. Analisis Data Keanekaragaman data Molekuler ISSR
Pencirian dilakukan  berdasarkan  pengamatan  pita  DNA  pada  setiap  aksesi. Setiap pita merupakan fragmen DNA yang diukur menggunakan 100-1500 bp ladder. Pengelompokan  disusun  berdasarkan  ciri  morfologi  dan  fragmen  DNA yang  dapat  diamplifikasi  pada  tiap  aksesi.  Sinonim,  homonim  dan  hubungan kekerabatan antar aksesi diketahui dari analisis similaritas menggunakan program NTSys  PC  versi  2.02.   Kemiripan  genetika  gandaria (Bouea)  berdasarkan penanda ISSR dianalisis menggunakan pengelompokan (SAHN clustering) dengan metode UPGMA dan hasil pengelompokannya  ditampilkan  dalam  bentuk  dendrogram.  Hasil dendogram akan di review kembali menggunakan Principal Component Analysis (PCA) yang akan menunjukkan pengelompokan data berdasarkan kesamaan karakter. Berdasarkan  ciri  morfologi  dan  ada  atau  tidaknya  pita  DNA  hasil amplifikasi  menggunakan  7  primer  ISSR dibuat  matriks  rata-rata kemiripan.  Individu-individu  yang  memiliki  kemiripan  genetika  berdekatan  akan mengelompok  bersama-sama atau berdekatan.  Makin  besar  ketidakmiripannya, maka  pengelompokan nya  akan  makin  jauh.  Pola  pengelompokan  individu berdasarkan  matriks  kemiripan  genetika  tercermin  dalam  bentuk  dendrogram, dengan jarak kemiripan genetik 0.00 (0 %) sampai dengan 1.00 (100 %). Perhitungan rata-rata jumlah Alel, rata-rata jumlah efektif alel, diversitas genetik, indeks informasi Shannon, jumlah lokus polimorfik, dan persentase lokus polimorfik dianalisis menggunakan program POPGENE versi 1.32. Analysis of Molecular Variance (AMOVA) digunakan untuk mengukur keragaman genetik di dalam populasi dan diluar populasi dianalisis menggunakan GenAlex 6.5.

3.5.3. Analisis Data cpDNA
Data hasil sequencing sampel hasil amplifikasi dengan penanda cpDNA sekuen trnL-F intergenic spacer dianalisis dengan program BioEdit 7.0.1 untuk menenukan sekuen konsensus berdasarkan sekuen konservatif dan program MEGA 6.06 (Molecular Evolutionary Genetic Analysis) untuk membangun pohon filogenetik. Hasil sequencing akan di alignment menggunakan program Clustal W yang terdapat pada MEGA 6.06 dan kemudian pohon filogenetik akan dibangun berdasarkan hasil alignment data sekuen. Dengan bantuan program MEGA, alignment data dapat dilakukan dan berdasarkan hasil alignment hubungan evolusi dapat diprediksi. Program MEGA juga memiliki kemampuan untuk menghitung matriks jarak evolusi dan memiliki program untuk analisis statistik.

3.5.4. Analisis Distribusi Spasial
         a. Analisis spasial menggunakan ArcGIS
ArcGIS memiliki seperangkat perhitungan matematika yang terstruktur untuk menciptakan sebuah analisis data raster yang merupakan data dari parameter yang berbeda untuk suatu wilayah yang sama. ArcGIS dapat mengeksplorasi interaksi dan hubungan antara layer/lapisan yang berbeda dari sekumpulan data. Sebagai contoh, ArcGIS dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antara jumlah curah hujan pada wilayah tertentu dengan kehadiran spesies dari genus Bouea di Indonesia, termasuk hubungannya dengan beberapa parameter seperti kemiringan, rupa bumi, dan jenis tanah. Hal ini disebut dengan Overlaying Principle, yaitu suatu prinsip dasar dalam analisis raster.
Proses analisis menggunakan ArcGIS merupakan proses penggabungan informasi dari beberapa layer data yang berbeda menggunakan operasi spasial tertentu sesuai dengan tujuan analisis. Analisis spasial dilakukan dengan memanfaatkan analisis data vektor, analisis data citra satelit, dan analisis data tabular. Dalam proses selanjutnya, data yang telah diperoleh dikumpulkan dan dilakukan pengecekan pada aspek format data, skala, sumber, dan tingkat kedetailan. Setelah semua data yang dibutuhkan dalam analisis telah tersedia, metode analisis ditetapkan sesuai dengan tujuan penelitian.
Fungsi dasar yang tersedia pada program ArcGIS yang digunakan dalam analisis spasial untuk menganalisis data sebaran genus Bouea di Indonesia yaitu:
§  Extract, merupakan proses pemotongan suatu data layer dengan data lainnya dengan tujuan mendapatkan data layer baru dengan bidang yang sama dengan layer pemotongnya.
§  Overlay, merupakan metodologi untuk memilih lokasi yang optimal dengan pemodelan yang sesuai dengan penyatuan data dari dua atau lebih layer dengan faktor yang berbeda untuk menghasilkan suatu peta baru.
§  Proximity, merupakan analisis yang berbasis pada jarak antar layer.
§  Statistics, merupakan teknik analisis untuk mengukur distribusi atau frekuensi satu kejadian berdasarkan keruangan.

b. Output Data
Data hasil pengolahan data dan analisis oleh ArcGIS adalah data digital yang terdiri dari:
1)     Data vektor. Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan dalam bentuk kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik, dan nodes (titik perpotongan antara dua buah garis). Informasi posisi titik, garis, dan polygon disimpan dalam bentuk x,y koordinat. Data vektor yang dapat diproses dan dianalisis menggunakan ArcGIS 10.3 adalah data yang berbentuk shapefiles sebagai bentuk representasi dari data tabel.
2)      Data raster. Data raster merupakan data bentuk bumi yang direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel (elemen dari gambar) yang dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Masing-masing grid/sel atau pixel memiliki nilai tertentu yagn bergantung pada bagaimana gambar tersebut disajikan. Pada data raster, resolusi tergantung pada ukuran pixelnya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel. Data raster sangat baik untuk mempresentasikan batas-batas yang berupah secara gradual seperti jenis tanah, curah hujan, suhu, dan sebagainya.
3)  Layout. Layout merupakan proses pengaturan peta untuk disesuaikan dengan syarat-syarat kartografis. Syarat kartografis dibuat untuk memastikan bahwa peta yang dibuat dapat dimengerti oleh pengguna. Untuk memastikan peta yang dibuat memenuhi persyaratan maka peta harus mengandung komponen isi peta, judul peta, penunjuk arah, skala, legenda, grid koordinat, dan sumber data.

c. Pemodelan menggunakan Maximum Entrophy
Dalam penelitian ini, suatu model dinilai sebagai suatu hasil proses pengolahan data menggunakan MaxEnt. Tujuan dasar dari analisis MaxEnt adalah memungkinkan otomatisasi dalam menjalankan analisis spasial serta pemodelan menggunakan variabel-variabel ekologi seperti iklim (Tabel 6) dan kemiringan lereng (Tabel 7) untuk menentukan wilayah dengan tingkat kesesuaian habitat yang paling tinggi.

Tabel 6. Deskripsi 19 variabel iklim yang digunakan dalam model distribusi
Singkatan
Deskripsi
Bio  1
Annual Mean Temperature
Bio  2
Mean Diurnal Range (Mean of monthly (max temp - min temp)
Bio  3
Isothermality (P2/P7) (*100)
Bio  4
Temperature Seasonality (standard deviation *100)
Bio  5
Max Temperature of Warmest Month
Bio  6
Min Temperature of Coldest Month
Bio  7
Temperature Annual Range (P5-P6)
Bio  8
Mean Temperature of Wettest Quarter
Bio  9
Mean Temperature of Driest Quarter
Bio10
Mean Temperature of Warmest Quarter
Bio11
Mean Temperature of Coldest Quarter
Bio12
Annual Precipitation
Bio13
Precipitation of Wettest Month
Bio14
Precipitation of Driest Month
Bio15
Precipitation Seasonality (Coefficient of Variation)
Bio16
Precipitation of Wettest Quarter
Bio17
Precipitation of Driest Quarter
Bio18
Precipitation of Warmest Quarter
Bio19
Precipitation of Coldest Quarter

Tabel 7. Deskripsi 10 variabel kemiringan lereng yang digunakan dalam model distribusi
Kelas
Deskripsi
Persentase
Slope1
Flat
0 – 0,2
Slope2
Level
0,2 – 0,5
Slope3
Nearly Level
0,5 – 1
Slope4
Very Gently Sloping
1,0 – 2,0
Slope5
Gently Sloping
2 – 5
Slope6
Sloping
5 – 10
Slope7
Strongly Sloping
10 – 15
Slope8
Moderately Steep
15 – 30
Slope9
Steep
30 – 60
Slope10
Very Steep
>60

Dalam analisis pemodelan kesesuaian habitat Bouea dengan habitat di lapangan harus menjadi pertimbangan. Hasilnya akan mengintegrasikan semua faktor lingkungan dengan lokasi keberadaan Bouea dalam menentukan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap habitat Bouea. Model Maxent akan menganalisis setiap variabel lingkungan yang digunakan dalam analisis dan menghitung secara statistik dan matematik besarnya pengaruh setiap variabel tersebut terhadap habitat Bouea. Model MaxEnt juga menguji signifikansi data lokasi koordinat dengan data ekologi dengan menghitung kurva ketepatan titik lokasi dengan prediksi data ekologi sehingga akan diperoleh nilai kesesuaian data. Model MaxEnt akan memberikan prediktif model ekologi yang akan menentukan wilayah dengan tingkat kesesuaian habitat tertinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk keperluan konservasi dimasa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar